MENJADI MAHASISWA UNIMED YANG BERKARAKTER-CERDAS MELALUI INTEGRASI-INDISKRIMINASI PORSI HARD SKILL DAN SOFT SKILL

MENJADI MAHASISWA UNIMED YANG  BERKARAKTER-CERDAS MELALUI INTEGRASI-INDISKRIMINASI PORSI HARD SKILL DAN SOFT SKILL

Oleh: Muhammad Akbar

NIM. 308131067,  Jurusan Pendidikan Geografi

 

Abstrak

Mahasiswa Unimed sebagai pelajar yang akan menjadi guru dan saintis diharapkan memilki kualitas baik secara pedagogis dan psikologis melalui aplikasi hard skill dan soft skill.Kenyataan di lapangan masih menunjukkan mahasiswa Unimed belum menjadi mahasiswa yang seutuhnya seperti yang diharapkan karena masih lemahnya hard skill dan soft skill mahasiswaPenyebab utama yang masih banyak dijumpai pada mahasiswa Unimed adalah masih terjadinya disintegrasi serta diskriminasi porsi antara hard skill dan soft skill.Sifat disintegrasi serta diskriminasi porsi hard skill dan soft skill yang dilakukan oleh mahasiswa Unimed akan mengantarkan pribadi mahasiswa yang tidak berkarakter-cerdas.Dalam UU No. 20 Tahun 2003, secara implisit pendidikan  nasional bertujuan untuk membentuk anak bangsa yang berkarakter-cerdas dengan harmonisasi hard skill dan soft skillHard skill dan soft skill meimiliki andil dalam membentuk karakter mahasiswa yang cerdas. Oleh karenanya hard skill dan soft skill harus diintegrasikan dan diindiskriminasikan dalam aplikasi kehidupan sehari-hari. Mahasiswa harus melakukan integrasi-indiskriminasi porsi hard skill dan soft skill agar bisa menjadi mahasiswa yang berkarakter-cerdas sesuai dengan tuntutan masa depan dalam pembangunan era modern. Integrasi-indiskrimnasi porsi hard skill adalah menerapkan dan meyatu-padukan keterampilan menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan personal di dalam diri dengan tidak membedakan porsi/kuantitas antara hard skill dan soft skill. Integrasi-indiskriminasi porsi hard skill dan soft skill ini sangat berhubungan dalam membentuk pribadi mahasiswa yang berkarakter-cerdas. Mahasiswa harus memiliki keseimbangan antara ilmu dan perilaku. Selain itu, dosen dan pihak fakultas, serta universitas juga harus memberikan sistem pendidikan yang menekankan pada harmonisasi ilmu-perilaku dengan mengetatkan perencanaan dan pelaksanaan kurikulum yang terintegrasi dan mahasiswa harus diberikan “warning”. Hal ini juga membutuhkan partisipasi aktif berbagai pihak.

Kata kunci: integrasi-indiskriminasi, hard skill dan soft skill, berkarakter-cerdas

 

 

  1. A.      PENDAHULUAN

Hard skill dan soft skill merupkan topik pembicaraan hangat yang dewasa ini sering digemakan sebagai isu sentral untuk meningkatkan kualitas lulusan perguruan tinggi. Seluruh pergurun tinggi nasional berjuang untuk dapat menekankan penguasaan hard skill dan soft skill pada mahasiswa, terlebh lagi perguruan tinggi atau universitas dengan status Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) seperti Universitas Negeri Medan (Unimed). Unimed sebagai LPTK dan universitas seyogianya menghasilkan lulusan yang sebagian besar adalah tenaga pendidik (guru) dan sebagian lagi adalah saintis (ilmuan) dan diharapkan dapat memberikan kontribusi besar kepada pembangunan bangsa dan negara juga bisa mengabdi kepada masyarakat. Karenanya, mahasiswa Unimed yang mengambil jurusan kependidikan dan non-kependidikan mulai diarahkan untuk menjadi mahasiswa yang unggul dan berkarakter melalui optimlisasi penguasaan hard skill dan soft skill. Berbagai program dan rencana telah dibuat Unimed untuk dapat menerapkn hard skill dan soft kill kepada mhasiswa secara optimal, seperti menjadikan indikator soft skill sebagai penekanan dalam kontrak perkuliahan.

Mahasiswa Unimed sebagai pelajar yang akan menjadi guru dan saintis diharapkan memilki kualitas baik secara pedagogis dan psikologis melalui aplikasi hard skill dan soft skill. Namun, harapan Unimed untuk menciptakan mahasiswa yang berkarakter dan unggul masih banyak menemui cobaan. Kenyataan di lapangan masih menunjukkan mahasiswa Unimed belum menjadi mahasiswa yang seutuhnya seperti yang diharapkan karena masih lemahnya hard skill dan soft skill mahasiswa. Penyebab utama yang masih banyak dijumpai pada mahasiswa Unimed adalah masih terjadinya disintegrasi serta diskriminasi porsi antara hard skill dan soft skill. Hampir sebagian besar mahasiswa Unimed masih memiliki sifat yang cenderung pada satu aspek dan membedakan kuantitas aspek hard skill dan soft skill dalam kegiatan pembelajaran/perkuliahan.

            Disatu sisi ada mahasiswa yang memisahkan hard skill dan soft skill. Sehingga muncul kelompok-kelompok mahasiswa yang memiliki tendensi untuk menguasai hard skill (dianggap juga IQ) saja dan mengenyampingkan aspek soft skill yang terdapat di dalamnya komunikasi lisan, saling menghargai, team work, leadership, toleransi, kejujuran, inspiratif, kreatif, disiplin, moral yang berlandaskan nilai-nilai spiritual, kontrol emosi, sopan santun, dan hal-hal yang berkaitan dengan pengendalian diri. Kemudian muncul juga kelompok mahaiswa yang hanya mementingkan  aspek soft skill (dianggap juga sebagai EQ dan SQ) dan mengeyampingkan hard skill. Hal-hal semacam ini akan menimbulkan karakter mahasiswa yang pintar, namun tidak sopan; pintar, namun tidak bertanggungjawab; pintar, namun tidak jujur; pintar, namun indivisualis; pintar, namun tidak bermoral; pintar,namun tidak cerdas; cerdas, namun tidak punya toleransi; bertanggungjawab, namun bloon; sopan, namun bodoh; jujur, namun tidak cerdas.

Di sisi lain ada mahasiswa yang sudah menerapkan atau mengintegrasikan hard skill dan soft skill dalam dirinya tetapi masih memberikan porsi yang berbeda (mendiskriminasikan porsi) antara hard skill dan soft skill, sehingga muncul mahasiswa yang mengaplikasikan hard skill dengan sedikit polesan soft skill dan sebaliknya. Hal semacam ini akan menimbulkan karakter mahasiswa yang pintar, namun kurang bijak; cerdas, namun kurang bertanggungjawab; cerdas, namun kurang pintar; sopan, namun kurang cerdas; bijak, namun kurang cerdas.

            Sifat disintegrasi serta diskriminasi porsi hard skill dan soft skill yang dilakukan oleh mahasiswa Unimed akan mengantarkan pribadi mahasiswa yang tidak berkarakter-cerdas. Mahasiswa Unimed meski menyadari seutuhnya dan memiliki makna ekspektasi yang jauh ke depan tentang visi untuk era yang akan datang.

            Visi yang dikedepankan dalam era ini adalah a deep inner reflection yang ditandai oleh suatu authority from within, bahwa wawasan dunia berubah bukan rasio dan logika saja yang menjadi landasan intelektual melainkan juga inspirasi, kreatifitas, moral, dan intuisi, berarti penekanan tidak lagi seharusnya pada kuantitas materi melainkan pada upaya siswa/mahasiswa menggunakan peralatan mentalnya secara efektif dan efesien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka melainkan juga keterlibatan emosional dan kreatif (Semiawan, dalam Shindunata, 2000).

            Hal di atas mengisyaratkan kepada seluruh mahasiswa Unimed akan pentingnya pengintegrasian dan indiskriminasi porsi hard skill dan soft skill. Posisi tawar mahasiswa Unimed tidak hanya sebagai peserta didik di kampus, tetapi juga sebagai calon pendidik dan akan menjadi orang-orang yang bakal mendidik dan akan berhubungan langsung dengan stake holder. Sebagai kader bangsa, mahasiswa Unimed dan pada umumnya di seluruh LPTK akan menjadi pendidik yang akan melakukan usaha-usaha agar tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Dalam UU No. 20 Tahun 2003, secara eksplisit ditegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional bukan sekedar membentuk siswa didik yang terampil dan cerdas saja, akan tetapi juga membentuk peserta didik yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, mandiri, kreatif, agar menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab. Dengan kata lain, secara implisit pendidikan  nasional bertujuan untuk membentuk anak bangsa yang berkarakter-cerdas dengan harmonisasi hard skill dan soft skill. Tentunya ini menjadi catatan dan pekerjaan besar mahasiswa ke depannya, khususnya mahasiswa Unimed yang sebagian besar telah dipersiapkan menjadi tenaga pendidik dan yang akan menjadi agen perubahan demi terwujudnya tujuan pendidikan nasional.

            Pertanyaan besar yang timbul adalah bagaimana mahasiswa Unimed bisa memuluskan  tujuan pendidikan nasional jika dalam diri mahasiswa masih terdapat perpecahan, disintegrasi dan diskriminasi porsi hard skill dan soft skill yang dibutuhkan untuk membentuk kesuksesan ke luar. Sukses dalam upaya ke luar itu tergantung kepada sukses upaya itu ke dalam (Notosusanto, 1984). Artinya, mahasiswa Unimed sebagai calon guru dan ilmuan harus melakukan usaha pembenahan diri terkait dengan hard skill dan soft skill agar bisa sukses dan menjadi mahasiswa yang berkarakter-cerdas, mahasiswa harus mengetahui betapa pentingnya hard skill dan soft skill bagi mahasiswa. Mahasiswa yang berkarakter-cerdas merupakan suatu kondisi yang teramat diprioritaskan oleh sebuah perguruan tinggi termsuk Unimed. Oleh karena itu, dalam karya tulis ini akan dipaparkan apa itu hard skill dan soft skill serta kepentingannya dalam membentuk pribadi mahasiswa yang berkarakter-cerdas yang dibutuhkan untuk menjawab visi dunia pendidikan dan dunia kerja ke depan. Diharapkan  semua paparan yang ada nantinya dapat memberikan manfaat untuk menjadi bahan refleksi bagi mahasiswa Unimed mengenai konsepsi hard skill dan soft skill yang sesungguhnya, masukan bagi mahasiswa Unimed, dan Dapat dijadikan bahan masukan bagi Unimed agar mampu meluruskan konsepsi mahasiswa terhadap pentingnya hard skill dan soft skill agar Unimed nisa menghasilkan lulusan yang berkualitas dan berkarakter-cerdas sesuai dengan tuntutan.

  1. B.       PEMBAHASAN

Coates (dalam Muaddab.2010)  menyatakan hard skills merupakan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Sementara itu, soft skills adalah keterampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan keterampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) yang mampu mengembangkan unjuk kerja secara maksimal.

Soft skill didefinisikan sebagai “personal and interpersonal behaviors that develop and maximize human performance (e.g. coaching, team building, decision making, initiative). Soft skills do not include technical skills, such as financial, computer or assembly skills” (Berthal, dalam Muaddab. 2003). Berikut adalah beberapa indicator soft skill yang di olah diolah dari Personal Soft skill Indicator, Jhon Doe, Performance DNA International, Ltd., (2001)

NO

SOFT SKILL

KETERANGAN

01

Personal Effectiveness

Kemampuan mendemontrasikan inisiatif, kepercayaan-diri, ketangguhan, tanggung jawab personal dan gairah untuk berprestasi

02

Flexibility

Ketangkasan dalam beradaptasi dengan perubahan baru.

03

Management

Kemampuan mendapatkan hasil dengan menggunakan sumberdaya yang ada, sistem dan proses.

04

Creativity/ Innovation

Kemampuan memperbaiki hal-hal yang sudah lama, kemampuan menciptakan dan menggunakan hal-hal baru (sistem, pendekatan, konsep, metode, desain, tehnologi, dan lain-lain)

05

Futuristic thinking

Kemampuan memproyeksikan hal-hal yang perlu dicapai atau hal-hal yang berlum tercapai

06

Leadership

Kemampuan mencapai hasil dengan memberdayakan orang lain.

07

Persuasion

Kemampuan dalam meyakinkan orang lain agar berubah ke arah yang lebih baik

08

Goal orientation

Kemampuan dalam memfokuskan usaha untuk mencapai tujuan, misi, atau target

09

Continuous learning

Kesediaan untuk menjalani proses learning, memperbaiki diri dari praktek, menjalankan konsep baru, tehnologi baru atau metode baru.

10

Decision-making

Kemampuan menempuh proses yang efektif dalam mengambil keputusan

11

Negotiation

Kemampuan memfasilitasi kesepakatan antara dua pihak atau lebih

12

Written communication

Kemampuan mengekspresikan pendapat atau perasaan dengan bahasa tulis yang jelas dan mudah dipahami orang lain

13

Employee development / Coaching

Kemampuan memfasilitasi dan mendukung kemajuan orang lain

14

Problem-solving

Kemampuan mengantisipasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah

15

Teamwork

Kemampuan dalam bekerjasama dengan orang lain secara efektif dan produktif

16

Presenting

Kemampuan mengkomunikasikan pesan di depan orang banyak secara efektif

17

Diplomacy

Kemampuan menangani kesulitan atau isu sensitif secara diplomatif, bijak, efektif, dengan pemahaman yang mendalam terhadap kultur, iklim dan politik yang berkembang di tempat kerja.

18

Conflict management

Kemampuan menyelesaikan konflik secara konstruktif

19

Empathy

Kemampuan untuk bisa peduli pada orang lain

20

Customer service

Kemampuan mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan orang lain atau pelanggan

21

Planning / Organizing

Kemampuan menggunakan logika, prosedur atau sistem untuk mencapai sasaran

22

Interpersonal skills

Kemampuan berkomunikasi secara efektif, dan bisa menjalin hubungan secara harmonis dengan orang lain.

23

Self-management

Kemampuan mengontrol-diri atau mengelola potensi dan waktu untuk mencapai hasil yang lebih bagus

(http://catur.dosen.akprind.ac.id/indikator-soft-skill/ Minggu/07/11/2010/20.32 WIB)

Hard skill dan soft skill meimliki andil dalam membentuk karakter mahasiswa yang cerdas. Oleh karenanya hard skill dan soft skill harus diintegrasikan dan diindiskriminasikan dalam aplikasi kehidupan sehari-hari.

Integrasi atau integration/integrate dalam pengertian kamus bahasa inggris merupakan penyatu-paduan, menyatu-padukan, atau mempersatukan. Sedangkan diskriminasi atau diskriminate merupakan pembedaan atau ketidak-merataan (Echole dan Hassan Sadily. 1986).

Berdasarkan pengertian integrasi dan diskriminasi di atas, pengertian integrasi soft skill dan hard skill adalah menyatu-padukan secara aspek-aspek kemampuan memahami materi ilmu pengetahuan dan keterampilan personal. Sedangkan indiskriminasi porsi hard skill dan soft skill adalah tidak membedakan porsi atau kuantitas dari kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan personal. Jadi, secara mnyeluruh dapat dikatakan bahwa integrasi-indiskriminasi porsi hard skill adalah menerapkan dan meyatu-padukan keterampilan menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan personal di dalam diri dengan tidak membedakan porsi/kuantitas antara hard skill dan soft skill. Integrasi-indiskriminasi porsi hard skill dan soft skill ini sangat berhubungan dalam membentuk pribadi mahasiswa yang berkarakter-cerdas.

Prayitno dan Belferik Manullang (2010) menyatakan bahwa karakter adalah sifat pribadi yang relatif stabil pada diri individu yang menjadi landasan bagi penampilan perilaku dalam standar nilai dan norma yang tinggi. Sedangkan cerdas atau kecerdasan adalah kemampuan memanipulasi unsur-unsur kondisi yang dihadapi untuk sukses mencapai tujuan.

Dijelaskan lebih jauh mengenai unsur-unsur karakter, yaitu:

–          relatif stabil:  suatu kondisi yang apabila sudah dibentuk akan tidak mudah diubah.

–          Landasan: kekuatan yang pengaruhnya sangat besar/dominan dan menyeluruh terhadap hal-hal yang  terkait langsung dengan kekuatan yang dimaksud.

–          Penampilan perilaku: aktifitas individu atau kelompok dalam bidang dan wilayah (setting) kehidupan.

–          Standar nilai/norma: kondisi yang mengacu pada kaidah-kaidah agama, ilmu dan tekhnologi, hukum, adat, dan kebiasaan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari dengan indikator iman dan takwa, pengendlian diri, disiplin, kerja keras, ulet, bertanggung jawab, dan jujur.

Penjelasan pengertian cerdas secara komplit dijelaskan bahwa:

–          kemampuan adalah karakteristik diri/individu atau kelompok yng dapat ditampilkan untuk memenuhi kebutuhan/tuntutan tertentu.

–          Manipulasi adalah perilaku aktif dan disengaja untuk melihat dan mengorganisasikan hubungan antar unsur yang ada pada suatu kondisi.

–          Unsur-unsur adalah pemilahan/pemisahan atas bagian-bagian dari suatu kesatuan tertentu.

–          Tujuan adalah kondisi yang diharapkan terjadi melalui penampilan kemampuan dalam bentuk usaha.

–          Sukses adalah kondisi yang unsur-unsurnya sesuai dengan kriteria yang diharapkan.           (Prayitno, dan Manullang, 2010).

Berbicara mengenai kecerdasan, Zuchdi (2008) membagi kecerdasan ke dalam lima ranah, yaitu kecerdasan rohaniah (religius) yang berlandaskan wawasan ketuhanan, kecerdasan kultural yang berlandaskan nilai-nilai budaya bangsa, kecerdasan sosial yang berlandaskan kemampuan menjalin kerjasama terhadap lingkungan sekitar, kecerdasan emosional yang berlandaskan nilai-nilai pengendalian diri, dan kecerdasan intelektual yang berlandaskan kemampuan untuk menyerap ilmu dan tekhnologi. Amstrong (dalam Zuchdi, 2008) mengatakan perilku cerdas secara utuh dapat dketahui dari peradaban yang tinggi, bukan hanya dari IQ.

Dilihat dari konsep dan pengertian karakter dan kecerdasan, maka dapat dikatakan bahwa karakter-cerdas merupakan sifat yang relatif stabil pada diri individu yang di dalamnya terdapat kemampuan untuk memanipulasi unsur-unur kondisi yang dihadapi untuk sukses mencapai tujuan dengan tetap berdiri di atas landasan bagi penampilan perilaku dalam standar nilai dan norma yang tinggi.

Kehidupan cerdas yang dikehendaki sebagaimana telah dikemukakan terdahulu juga dikehendaki sebagai kehidupan yng menempuh jalan lurus mengikuti kaidah-kaidah nilai dan norma sesuai dengan fitrah manusia yang berorientasi kebenaran dan keluhuran. Kehidupan dengan jalan lurus itu disebut juga dengan kehidupan berkarakter. Perilaku cerdas hendaknya disertai tindakan yang berkarakter dan perilaku yang berkarakter hendaknya pula diisi upaya yang cerdas. Kecerdasan dan karakter dipersatukan dalam perilaku yang berbudaya. Kehidupan yang cerdas tanpa disertai kehidupan yang berkarakter akan menimbulkan berbagai kesenjangan dan penyimpangan (Prayitno, dan Belferik Manullang, 2010).

–            Pentingnya Integrasi-Indiskriminasi Porsi Hard skill dan Soft skill Bagi Mahasiswa Unimed Menuju Mahasiswa Berkarakter-Cerdas

Mendengar nama Universitas Negeri Medan (Unimed), banyak orang yang menterjemahkannya sebagai perguruan tinggi yang akan melahirkan tenaga pendidik (guru). Tidak salah jika masyarakat menginterpretasikan bahwa Unimed melahirkan tenaga pendidik (guru), pasalnya latar belakang Unimed yang pada awalnya adalah sebuah fakultas keguruan dan ilmu kependidikan (FKIP) kemudian bergenesis menjadi IKIP dan akhirnya menjadi sebuah universitas. Sebagai universitas dengan status Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), Unimed tidak hanya melahirkan sarjana kependidikan tetapi juga sarjana non-kependidkan. Terlepas dari itu semua, yang telah menjadi suatu prioritas utama  Unimed adalah bagaimana untuk “mencetak” mahasiswa dan lulusan yang unggul dan berkarakter. Tidak jauh dari itu juga mahasiswa Unimed memiliki beban dan tanggung jawab besar memuluskan usaha Unimed, dan sebagai prioritas, mahasiswa Unimed juga wajib melakukn usaha untuk menjadi mahaiswa yang unggul dan berkarakter dalam bidang pedagogis dan perilaku guna menjadi mahasiswa yang berkarakter-cerdas.

     Program yang telah mulai dirintis dan diterapkan oleh Unimed pada mahasiswa selain keterampilan menguasai materi pelajaran (hard skill) juga keterampilan menguasai diri dan perilaku (soft kill). Bukan tanpa alasan pihak Unimed menerapkan optimalisasi hard skill dan soft skill yang terintegrasi dalam kurikulum pembelajaran bagi mahasiswa, hal ini ditujukan agar mahasiswa menjadi individu yang unggul serta cerdas dalam bidang keilmuan dan berkarakter dalam berperilaku. Pertanyaan yang timbul adalah apakah mahasiswa Unimed sebagai mahasiswa dan calon sarjan sudah sepenuhnya mengoptimalkan penguasaan hard skill dan soft skill?.

Mahasiswa Unimed yang berasal dari berbagai daerah yng berbeda memiliki tingkat pluralisme yang tinggi yang terdiri dari suku dan adat yang berbeda-beda sehingga memiliki watak yang berbeda pula. Mahasiswa Unimed dipersiapkan untuk menjadi guru dan saintis yang memiliki tanggungjawab besar membawa negeri ini menuju kemajuan. Oleh karena itu, untuk menjadi mahasiswa yang berkarakter-cerdas yang sesuai dengan tuntutan masa depan dan sesuai dengan keinginan stake holder, maka mahasiswa Unimed perlu menguasai hard skill dan soft skill dengan mengintegrasikan dan melakukan indiskriminasi porsi keduanya.

Selama ini yang terjadi pada mahasiswa Unimed adalah disintegrasi dan diskriminasi porsi hard skill dan soft skill. Masih banyak mahasiswa unimed yang belum bisa mengharmonisasikan nilai-nilai hard skill dan soft skill dalam dirinya. Sebagai contoh dari pengalaman yang telah lama terjadi, masih banyak mahasiswa yang masih belum bisa berkomunikasi lisan secara baik, bahkan tidak jarang jika dosen melakukan diskusi timbil kecenderungan “diam seribu bahasa” pada mahasiswa yang ada di kelas. Ini sudah hampirmenjadi pnyakit kronis yang keberadaannya harus dimusnahkan dengan berbagai cara yang aktif dan partisipatif yang melibatkan seluruh sivitas akademika.

–          Disintegrasi Hard skill dan Soft skill

SOFT SKILL

 

HARD SKILL

 

                                                                      

 

 

            Masih banyak mahasiswa Unimed yang mendisintegrasikan hard skill dan soft skill yang membuat mahasiswa menjadi terblok-blok. Ada yang hanya mementingkan hard skill tanpa mementingkansoft skill dan ada pula yang hanya mementingkan soft skill aja tanpa mementingkan hard skill. Situasi pribadi yang seperti ini akan menciptakan pribadi yang pintar, namun tidak bertanggung jawab; pintar, namun tidak sopan; pintar, namun tidak disiplin; pintar, tetapi tidak menghargai orang lain; sopan, namun tidak cerdas; disiplin, tapi bodoh; bertanggungjawab, tapi tidak cerdas.

            Sebagai contoh, dapat dilihat dari kelakuan sebagian mahasiswa unimed yang lebih mengorientasikan diri di tempat-tempat bermain dan hiburan yang tidak semestinya (seperti tempat bilyard). Tidak sedikit dari mereka yang merupakan mahasiswa pintar, tetapi dengan kebiasaan seperti itu sangat menunjukkan mahasiswa sebagai caln sarjana tidak memiliki kepribadian yang memuat atribut soft skill yang positif di dalamnya.

–          Diskriminasi Porsi Hard skill dan Soft skill

               
 

HARD SKILL

 

 

SOFT SKILL

 

     

SOFT SKILL

 

       

HARD SKILL

 

 
 
 

 

Sebagian mahasiswa Unimed sudah mengintegrasikan nilai hard skill dan soft skill dalam dirinya, namun masih terjadi masalah/gap, yaitu membedakan porsi atau kuantitas (diskriminasi porsi) antara hard skill dan soft skill. Hal-hal semacam ini akan menghasilkan pribadi mahasiswa yang pintar, namun kurang bertanggung jawab; pintar, namun kurang disiplin; pintar, namun kurang bijak; pintar, namun kurang bisa bekerjasama; bijak, namun kurang cerdas; bertanggung jawab, namun kurang cerdas.

            Contoh nyata yang dapat dilihat dari kebiasaan mahasiswa unimed, yaitu pada saat pada forum ilmiah selalu sering menunjukkan sikap yang kurang berkarakter-cerdas. Seperti dalam kegiatan presentase kelas, sering sekali mahasiswa yang pintar memberikan pendapat tetapi kurang memperhatikan etka dalam penyampaian pendapat.

            Deskripsi mengenai pribadi yang timbul akibat kesenjangan pengamalan hard skill dan soft skill tersebut hendaknya dihindari jauh-jauh oleh mahasiswa Unimed yang notabene merupakan kaum intelektual ayng dibutuhkan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih positif.

–          Pembenahan yang Seharusnya Dilakukan Mahasiswa Unimed

Pemaparan yang telah diuraikan sebelumnya harusnya bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi mahasiswa Unimed untuk membenahi pemahaman konsep hard skill dan soft skill. Hard skill dan soft skill merupakan komponen penting yang harus dihayati oleh mahasiswa, dan seharusnya mahasiswa Unimed melakukan integrasi dan indiskriminasi porsi. Artinya dalam mengamalkan hard skill dan soft skill, keduanya dipadukan dan disamakan kuantitas pengamalannya, jangan hanya bertitik tolak pada satu aspek karena alasan-alasan tertentu.

   seharusnya seperti ini:

 
   

 

 

Berkarakter-cerdas

 

 

 

 

 

Jika hard skill dan soft skill diintegrasikan dan di-indiskriminasikan porsinya, maka akan tercipta karakter mahasiswa yang pintar dan bertanggungjawab; pintar dan disiplin; pintar dan cerdas; cerdas dan bertanggungjawab;cerdas dan beriman; pintar dan bertakwa.

Sebagai calon guru yang akan membentuk peserta didik menjadi pribadi yang cerdas dan berkarakter sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, mahasiswa sejak dini harus membentuk pribadi sebagai mahasiswa Unimed yang berkarakter-cerdas. Jika mahasiswa tidak memiliki pribadi yang berkarakter-cerdas dan memiliki pengamalan hard skill dan soft skill yang timpang dalam diri mahasiswa, maka mahasiswa Unimed yang lulus dan mengajar akan menciptakan suatu kecelakaan pendidikan. Oleh karena mahasiswa perlu mengetahui bahwa pada pertemuan Pasca Sarjana LPTK seluruh Indonesia di Padang (Prayitno, 2010) menetapkan bahwa visi pendidikan/pembelajaran adalah “terbangunnya karakter-cerdas pada diri peserta didik untuk berkehidupan secara berkarakter-cerdas dalam berbagai bidang dan wilayah kehidupan”. Ini adalah tugas dan kewajiban mahasiswa Unimed ke depan.

Selain itu juga bagi mahasiswa Unimed yang bergelut pada bidang non-kependidikan dan akan menjadi seorang saintis perlu juga menguasai hard skill dan soft skill secara harmonis guna menghadapi dunia kerja dan stake holder. Jika mahasiswa yang akan menjadi saintis tidak mengintegrasikan dan tidak melakukan indiskriminasi porsi hard skill dan soft skill maka akan menciptakan suatu kecelakaan. Ilmu pengetahuan yang diterapkan dengan “membabi buta” dan tanpa nilai/norma yang mendasari akan menciptakan kehancuran di muka bumi.

Gultom (2009) menyatakan bahwa agar seseorang dapat melakukan sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan keterampilan (skill) yang sesuai bidang pekerjaannya. Begitu juga dengan Unimed sebagai sebuah lembaga pendidikan harus berusaha membentuk mahasiswa yang berkarakter-cerdas dengan berbagai program lunak menyangkut pengembangan kepribadian dan keterampilan mahasiswa. Suproto (dalam Yamin, 2008) menyatakan bahwa dibutuhkan kurikulum yang menyeimbangkan agar bangsa ini berdaya saing tinggi, yakni antara hard skill dan soft skill yang mengakomodasi aspek tekhnis dan spirit technopreneurship.

Oleh karena itu, mahasiswa harus melakukan integrasi-indiskriminasi porsi hard skill dan soft skill agar bisa menjadi mahasiswa yang berkarakter-cerdas sesuai dengan tuntutan masa depan dalam pembangunan era modern, mahasiswa harus memiliki keseimbangan antara ilmu dan perilaku. Mahasiswa bisa melakukannya dengn perlahan dan dengan “taubat” untuk hal-hal yang tidak berkarakter-cerdas. Hal ini juga tidak terbatas kepada mahasiswa saja, dosen dan pihak universitas juga harus memberikan sistem pendidikan yang menekankan pada harmonisasi ilmu-perilaku dengan mengetatkan perencanaan dan pelaksanaan kurikulum yang terintegrasi dan mahasiswa harus diberikan “warning”. Hal ini juga membutuhkan partisipasi aktif berbagai pihak.

  1. C.      PENUTUP

 Kesimpulan

Dari seluruh paparan yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa hard skill dan soft skill merupakan sebuah program yang harus dikuasai mahasiswa Unimed dari berbagai bidang studi. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak terjadi disintegrasi dan diskriminasi porsi hard skill dan soft skill dalam diri mahasiswa Unimed. Sebagai unsur pembentuk karakter-cerdas, hard skill dan soft skill merupakan suatu hal yang harus diaplikasikan dalam kehidupan mahasiswa Unimed sebagai seorang mahasiswa dan calon sarjana yang akan mengabdi bagi pendidikan dan kemajuan negara. Oleh karena itu, mahasiswa harus melakukan usaha integrasi dan indiskriminasi porsi hard skill dan soft skill guna menjadi mahasiswa Unimed yang berkarakter-cerdas dan sesuai dengan tuntutan visi kemajuan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan ke depan.

Saran

Adapun saran yang diberikan penulis dalam hal ini adalah bagi mahasiswa Unimed agar bisa melakukan manajemen diri terkait dengan integrasi dan indiskriminasi porsi hard skill dan soft skill agar bisa menjadi mahasiswa yang berkarakter-cerdas dan menghindari perpecahan atau disintegrasi hard skil dan soft skill., selain Bagi Unimed dan seluruh civitas akademika yang memiliki andil dalam pembentukan karakter mahasiswa hendaknya lebih bijak dalam melakukan pendekatan konsepsi mengenai pemahaman hard skill dan soft skill yang harus diaplikasikan mahasiswa agar tidak terjadi disintegrai dan diskriminasi porsi hard skill dan soft skill pada diri mahasiswa Unimed, dan mahasiswa Unimed bisa menjadi lulusan yang berkualitas, unggul, dan terampil dengan karakter-cerdas.

Daftar Pustaka

Danim, Sudarwan. 2008. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Echole, Jhon dan Hassan Sadily. 1986. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Gultom, Syawal. Dkk. 2010. Kompetensi Guru. Medan: Unimed

Muaddab, Hafis.2010. Soft Skill-Hard Skill Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi:

http://hafismuaddab.wordpress.com/2010/02/13/pengertian-soft-skill-dan-hard-skill/

Notosusanto, Nugroho. 1984. Wawasan Almamater. Jakarta: UI Press

Prayitno, dan Belferik Manullang. 2010. Pendidikan Karakter dalam Pembangunan

Bangsa. Medan: PPS Unimed

Shindunata. 2000. Membuka Masa Depan Anak-anak Kita. Yogyakarta: Kanisius

Yamin, Moh. 2008. Menggugat Pendidikan Indonesia. Jakarta : Gramedia

Zuchdi, Darmiyati. 2009. Humanisasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

http://catur.dosen.akprind.ac.id/2009/01/19/indikator-soft-skill/  diunduh pada hari

Minggu/07/11/2010 pukul 20.32 wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s